Friday, October 24, 2014

laporan praktikum kelas mamalia

PERCOBAAN : I
I.    Judul Praktikum         : Pengamatan Anatomi Mamalia
II.   Tanggal Praktikum    : 9 Mei 2014
III. Tujuan Praktikum      : Untuk memperhatikan struktur dan bagian-bagian dari sistem otot, sistem cerna, sistem pernafasan, sistem urinasi, sistem reproduksi, sistem syaraf dan sistem peredaran darahnya.

IV. Dasar Teori                  :        
Mamalia merupakan kelompok tertinggi dalam dunia hewan. Termasuk dalam kelas tikus, kucing, ikan paus, kuda, manusia dan lain-lain. Hampir semua tubuhnya tertutup dengan kulit yang berambut banyak atau sedikit dan berdarah panas. Sebutan mamalia berdasarkan adanya kelenjar mamae yang terdapat pada hewan betina yang berfungsi untuk menyusui anaknya pada saat masih bayi.[1]
Mamalia berkembang dari leluhur reptilia lebih awal dari burung. Fosil tertua yang diyakini merupakan mamalia yang berumur 220 juta tahun. Sejak zaman senozoikum datang setelah kepunahan dimasa kretaseus, mamalia sedang melakukan radiasi adaptif besar-besaran, keanekargaman itu diwakili oleh tiga kelompok utama yang terdiri dari monotrema (mamalia yang bertelur), marsupial (mamalia yang berkantung) dan mamalia eutheria (mamalia berplasenta).[2]
Karakteristik mamalia yaitu, tubuh umumnya tertutup rambut, kulit berkelenjar. Cranium dengan dua occipital condyle, mulut umumnya bergigi. Lubang telinga luar umunya memiliki daun telinga yang kenyal. Jantung terdiri dari 4 ruang, respirasi hanya dengan paru-paru, suhu tubuh homolotermis, columna vertebralis dengan lima wilayah, yaitu serviks, toraks, sakral dan caudal, mempunyai 4 anggota gerak kecuali golongan cetacean, terdapat dua belas pasang saraf kranialis dan fertilisasi internal (pembuhan terjadi didalam tubuh).[3]
Monyet beruk(Macaca nemestrina Linnaeus) memiliki rambut penutup tubuh bewarna coklat abu-abu sampai tengguli, bagian bawah selalu lebih pucat. Jambang pipi selalu mencolok. Tungkai depan lebih panjang dari tungkai belakang. Setiap tungkai atau kaki memiliki 5 jari yang berkuku bukan bercakar serta dapat digunakan untuk memegang. Ekor dan telinganya pendek, ekor monyet beruk melengkung diatas punggungnya dapat ditutupi rambut halus yang bewarna coklat kemerahan.[4]
Berdasarkan ciri hewan menyusui digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu mamalia monotrema, mamalia marsupilia dan mamalia plasenta. Mamalia monotrema yaitu mamalia yang menyusui dan mengerami telurnya. Mamalia marsupilia termaksuk kedalam hewan yang jumlahnya sangat sedikit. Mamalia plasenta yaitu hewan yang menyusui, mengandung dan melahirkan anaknya.[5]

V. Alat dan Bahan:
a.    Alat     :
1.    Pinset
2.    Gunting
3.    Pisau bedah
4.    Nampan bedah
5.    Jarum pentul

b.   Bahan :
 1. Mencit (Mus musculus)
                         
VI. Cara Kerja          :
1.    Dimasukkan mencit kedalam stoples kemudian dimasukkan kapas yang telah dibubuhi Clorofrom atau eter kedalam stoples tadi dan ditutup rapat-rapat, ditunggu beberapa menit sehingga mencit (Mus musculus) itu mati dan barulah dikeluarkan mencit (Mus musculus) tadi dari dalam stoples dan diletakkan pada punggungnya diatas papan bedah.
2.    Dipakukan keempat kakinya pada nampan bedah, diangkat kulit mencit dengan pinset secara hati-hati dan diguntinglah kulit tadi dimulai dari Planum medianus dari celah kaki belakang hingga ke regio sub mandibularis dan dari celah kaki belakang digunting pula kearah ujung daru extremitas posterior, dengan menggunakan pinset atau pisau selanjutnya tanggalkan kulit dari tubuhnya. Digambarkan sistem ototnya.
3.    Dibuka dinding perut secara hati-hati dengan membuat sayatan dari celah extremitas posterior hingga ke regio thoracalis. Kaki depan direntangkan sehingga cor dapat terlihat jelas dan digambar semua jeroan yang nampak.

VII. Hasil Pengamatan         :

Gambar         : Hamster (Mesocricetus brandti)
Keterangan



1. Jantung
2. Hati
3. Ginjal
4. Usus
5. Trakea
6. Lambung
7. Kloaka







Gambar  : Sistem respirasi  hamster (Mesocricetus brandti)
Keterangan

1.      Larink
2.      Trakea
3.      Percabangan alveoli broncus
4.      bronchiolus







Gambar  : Sistem reproduksi hamster (Mesocricetus brandti)
Keterangan











1.      Testis
2.      Ginjal
3.      Vas deferens
4.      Uretre
5.      Usus
6.      Kloaka
7.      Rudimenter







Gambar  : Sistem reproduksi hamster (Mesocricetus brandti)
Keterangan













1.      Ginjal
2.      Telur pada ovarium
3.      Ovarium kiri
4.      Uretre
5.      Uterus
6.      Rudimenter
7.      Kloaka







Gambar  : Sistem ekresi hamster (Mesocricetus brandti)
Keterangan













1.      Hati
2.      Lambung
3.      Usus halus








Foto Morfologi Hamster (Mesocricetus brandti)










Foto Anatomi Hamster (Mesocricetus brandti)







Klasifikasi Hamster (Mesocricetus brandti)
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Mamalia
Ordo               : Rodentia
Famili              : Cricetidae
Genus              : Mesocricetus
Spesies            : Mesocricetus brandti

VIII. Pembahasan     :
          Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa, mamalia memiliki karakter struktural yang membedakan dari kehidupan vertebrata lain, ciri utama dari mamalia adalah adanya kelenjar susu yang berfungsi sebagai sumber makanan untuk anaknya. Kelenjar lain yang biasa ditemukan adalah kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar keringat (sudifora). Rambut tumbuh selama periode tertentu dalam hidupnya, meskipun berkurang atau tidak ada sama sekali pada stadium tua seperti pada paus. Mamalia bersifat endotermis karena memiliki mekanisme internal pengontrol suhu tubuh.
           
            Hamster (Mesocricetus brandti) termasuk mamalia, yaitu hewan yang memiliki kelenjar mamae untuk menyusui anaknya sebagai makanan pertama setelah mereka dilahirkan adapun ciri-ciri lain yang khas dari mamalia adalah jari kaki mempunyai cakar, kuku, dan telapak tangan. Kaki beradaptasi untuk berjalan, memanjat, menggali tanah, serta untuk meloncat, tubuh hamster (Mesocricetus brandti) terdiri dari caput (kepala), cerviks (leher) truneus (badan), ekstrimitas, anterior (kaki depan) dengan 5 digiti (jari), ekstremitas posterior (kaki belakang) terdiri dari 5 digiti. Memiliki kloaka dan berfungsi sebagai reproduksi, pengeluaran urin dan feses.
          Pengamatan yang dilakukan pada hamster meliputi, sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem urinasi, sistem reproduksi, sistem syaraf dan sistem peredaran darah. Sistem pencernaan pada hamster (Mesocricetus brandti) terdiri atas saluran pencernaan atau kelenjar-kelenjar yang berhubungan fungsinya untuk igesti dan digesti makanan, absorbsi sari makanan, eliminasi sisa makanan. Langkah dari proses pencernaan makanan yaitu, pencernaan dimulut dan dirongga mulut makanan digiling dan dibasahi oleh saliva, disalurkan melalui faring dan esofagus, pencernaan dilambung dan diusus halus, didalam usus diubah menjadi asam-asam amino monosakarida serta nsur-unsur lainya. Absorbsi  air dalam usus besar akibatnya, isi yang tidak dicerna menjadi feses. Feses dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka. Setelah itu berakhir dianus.
          Sistem pernafasan pada hamster terdiri dari trachea, bronchus, bronchioli dan paru-paru. Trachea disusun oleh cincin-cincin rawan yang terbuka pada bagian dorsalnya, bekerja sebagai jalan nafas. Pangkal dari trachea berupa rongga yang disebut laring. Cabang dari trachea adalah bronchus, yang kemudian membentuk percabangan lagi disebut bronchioli, paru-paru teridiri dari beberapa labi yang terdapat dalam rongga plueral, selaput yang membungkusnya disebut pleural.
          Sistem reproduksi pada hamster jantan adanya sepasang testis dan pada betina adanya ovum. Hamster betina berevolusi setelah adanya sengama sehingga pembuahan terjamin, selain itu mencit betina mempunyai sistem reproduksi yang istimewa yaitu mampu mengandung 2 rumpun anak sekaligus karena memiliki rahim ganda. Pembuahan terjadi pada rahim.
          Sistem otot pada mamalia ada 3 macam yaitu, otot lurik, otot polos, dan otot jantung. Sistem pernapasan paru-paru mamalia berada dalam rongga dada, urutan jalanya pernapasan pada mencit dimulai dari nares eksternal. Sistem peredaran darah memiliki 3 komponen, yaitu jantung, pembuluh dan darah. Rongga jantung terpisah secara sempurna oleh sekat membujur, menjadi rongga jantung kiri dan kanan, rongga jantung kiri mengandung darah yang kaya akan oksigen, yaitu oksigen dari darah arteri. Rongga jantung berisi darah yang menganndung Co2 adalah vena.
          Sistem eksresi pada hamster (Mesocricetus brandti) yaitu berupa sepasang ginjal (unipapila) yang terletak didaerah lumbaris sebelsh atas peritonium. Cairan urine akan keluar dari masing-masing ginjal kebawah melalui pembuluh uretre dan ditampung sementara dalam vesika urineria yang berkontraksi keluar melalui pembuluh uretra.
IX. Kesimpulan         :
1.      Ciri utama mamalia adalah memiliki kelenjar susu, kelenjar minyak dan kelenjar keringat.
2.      Hamster (Mesocricetus brandti) memiliki kuku yang terdapat pada masing-masing digiti dan memiliki caput, cerviks, trpuneus, ekstrimitas anterior dan posterior.
3.      Sistem pencernaan hamster (Mesocricetus brandti) terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar dan anus/kloaka.
4.      Sistem reproduksi pada hamster (Mesocricetus brandti) jantan terdapat sepasang testis dan pada betina terdapat ovum.
5.      Sistem otot hamster (Mesocricetus brandti) terdiri jantung, otot lurik dan otot polos.









PERCOBAAN : II
I.              Judul  Praktikum        : Pengamatan Anatomi Amphibia
II.           Tanggal Praktikum     : 16 Mei 2014
III.        Tujuan  Praktikum      : Memperhatikan struktur dan bagian-bagian dari                                                        sistem otot, sistem cerna, sistem pernapasan,                                                                  sistem urinasi, sistem reproduksi, sistem syaraf dan                                          sistem peredaran darahnya

IV.        Dasar Teori      :
Katak merupakan salah satu hewan vertebrata pada kelas amphibi yang berasal dari bahasa Yunani (amphi= rangkap, bios= hidup). Sebagian besar kelas ini menunjukkan bahwa hewan ini memiliki fase kehidupan di air kemudian mempunyai fase kehidupan di darat. Pada kedua fase itu struktur dan fungsinya menunjukkan sifat antara ikan dan reptilia dan menunjukkan bahwa amphibia merupakan kelompok chordatanyang pertama kali keluar dari air.[6]
Katak sawah dimasukkan kedalam ordo Anura. Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Ordo Anura mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitudengan melompat.[7]
Sistem pencernaan pada katak meliputi bagian saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan katak secara berturut-turut adalah rongga mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar dan kloaka. Kelenjar pencernaan katak meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas.[8]
Sistem pernapasan pada katak terdiri dari sepasang paru-paru berupa kantung elastis yang tipis. Mekanisme pernapasan paru-paru terdiri dari inspirasi dan ekspirasi. Keduanya dengan mulut tertutup. Katak memiliki tulang-tulang rusuk dan rongga badan. Mekanisme pernapasannya diatur oleh otot-otot tulang bawah dan perut yang saling berhubungan satu sama lain. Amphibia menambah respirasi paru-paru dengan pertukaran gas melalui kulitnya yang tipis dan basah.[9]
Amphibi mempunyai beragam warna dari hijau terang, orange dan emas, ada pula yang berwarna merah dan hijau namun jarang ditemukan. Warna tubuh ini bisa disebabkan oleh karena pigmen atau secara struktural atau dihasilkan oleh keduanya. Pigmen pada amphibi terletak pada kromatofora di kulit. Sel pigmen ini biasa dinamakan menurut jenis pigmen yang dikandung. Melanofora mengandung pigmen coklat dan hitam, dan lipofora mengandung pigmen merah, kuning dan orange.[10]
V.           Alat dan Bahan :
a. Alat:
1.        Gunting
2.        Pinset
3.        Nampan bedah
4.        Jarum pentul
b. Bahan:
1.        Katak (Rana esculenta)
2.        Chloroform

VI.        Cara Kerja       :
1.    Dimasukkan katak kedalam toples kemudian dimasukkan kapas yang telah dibubuhi kloroform atau eter kedalam toples dan ditutup rapat-rapat. Ditunggu beberapa menit sehingga katak itu mati dan barulah dikerjakan. Dikeluarkan katak tadi dari dalam toples dan diletakkan pada punggungnya diatas papan (bak seng).
2.    Dipaku keempat kakinya pada papan tadi. Diangkat kulit katak dengan pinset dengan hati-hati, digunting kulit tadi yang dimulai dari planum medianusdari celah kaki belakang digunting pula kearah ujung dari extremitas posterior. Digunakan pinset atau pisau untuk ditinggalkan kulit dari tubuhnya (diperhatikan saccus: impaticus sub cutanus). Dibuang kulit yang ditinggalkan tadi sehingga terlihat susunan sistem otot. Digambar susunan sistem ototnya.
3.    Dibuka dinding perut secara hati-hati dengan dibuat sayatan dari celah extremitas posterior hingga ke regio thoralis. Direntangkan kaki depan sehingga cor terlihat dengan jelas. Digambar semua jeroan yang nampak, diperhatikan bentuk dan warnanya. Digambar susunan organisasi dari semua sistem yang disebutkan diatas.

VII.     Hasil Pengamatan:
Gambar        : katak ( Rana sp.)

Keterangan










1. Mata
2. Hidung
3. Mulut
4. Tungkai depan
5. Tungkai belakang
6. Badan
7. Jari-jari
8. kloaka






Gambar        : Anatomi Katak

Keterangan

1. mulut
2. keronkongan
3. hati
4. empedu
5. pankreas
6. lambung
7. usus halus
8. usus 12 jari
9. ginjal
10.  ileum
11.  usus besar
12.  kloaka


Gambar        : Sistem urinaria

Keterangan













1.    ginjal
2.    ureter
3.    uretra
4.    penampung ureter










Gambar        : Sistem peredaran darah

Keterangan

1.    atrium kiri
2.    atrium kanan
3.    ventrikel












Gambar        : Sistem reproduksi pada jantan

Keterangan













1.    testis
2.    vas deferens
3.    kloaka










Gambar        : Sistem reproduksi pada betina

Keterangan

1.    ovarium
2.    oviduk
3.    uterus
4.    kloaka














VIII.  Pembahasan     :
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa, amphibi merupakan kelompok hewan yang bisa hidup di dua tempat, yaitu di darat dan di air. Amphibi dapat dibedakan atas kepala, badan, dan anggota gerak. Kepala berbentuk segitiga, dengan moncong yang tumpul, celah mulut lebar. Rahang bawah tidak bergerigi, rahang atas bergerigi atau tidak. Pada umumnya vomer bergerigi, kedudukan vomer terhadap nares posterior sangat penting untuk diidentifikasi. Didalam mulut terdapat lidah yang melekat pada dasar bawah bagian anterior. Lubang hidung satu pasang terletak dekat ujung moncong mata besar dan mata atas yang tebal berdaging dan kelopak mata bawah yang lebih tipis.
Pengamatan yang dilakukan pada katak meliputi, sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem urinasi, sistem reproduksi, sistem syaraf dan sistem peredaran darah Sistem pencernaan pada katak dimulai dari mulut, dari mulut makanan melalui faring, kemudian esofagus menghasilkan sekresi alkali mendorong makanan masuk ke lambung, di lambung makanan dicerna dan diproses dengan enzim. Lambung juga menghasilkan klorida untuk mengasamkan makanan, kemudian makanan masuk ke dalam usus melalui pyloris, kemudian sari-sari makanan masuk ke hati yang besar terdiri atas beberapa lobus dan bilus, yang kemudian di tampung dalam kantung empedu kemudian menuju ke rektum kemudian dikeluarkan melalui kloaka.
Sistem pernapasan pada katak terdiri atas paru-paru dari kulit serta rongga kulit. Oksigen yang berasal dari udara larut dalam cairan permukaan respirasi atau alat dengan jalan difusimasuk ke pembuluh darah. Paru-paru katak terdiri atas dua saku elastis yang berisi lipatan membentuk kamar-kamar kecil yang masing-masing diliputi oleh pembuluh kapiler. Dari paru-paru kemudian disalurkan ke trakea dan menuju ke bronkiolus kemudian menuju alveolus.
Sistem reproduksi pada katak jantan  berupa sepasang testis berbentuk oval berwarna keputih-putihan, terletak disebelah anterior dari ren. Sedangkan reproduksi pada katak betina terdiri atas sepasang ovarium diletakkan dengan bagian dorsal coelom oleh alat penggantung yang disebut mesovarium. Ovum yang telah masak menembus dinding ovarium untuk masuk ke dalam oviduk, selanjutnya ovum menuju ke kloaka pada suatu papillae.
Sistem sirkulasi pada katak adalah peredaran darah tertutup dan ganda. Pada peredaran darah ganda, darah melalui jantung sebanyak dua kali dalam sekali peredarannya. Pertama darah dari jantung menuju ke paru-paru dan kembali ke jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju jantung dan diedarkan kembali ke seluruh tubuh. Jantung katak terdiri dari tiga ruang yaitu atrium kiri, kanan dan ventrikel. Diantara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah agar darah dari ventrikel mengalir kembali ke atrium. Pertukaran 02 dan C02 terjadi di paru-paru. C02 dilepaskan dan diikat 02. Tetapi di ventrikel terjadi percampuran C02 dan 02 yang terjadi di dalam darah.
Alat ekskresi utama pada katak adalah sepasang ginjal yang terdapat di kanan kiri tulang belakang, berwarna kecoklat-coklatan yang memanjang ke belakang. Sistem eksresi pada katak disebut suatu sistem gabungan karena masing-masing sistem masih bergabung pada kloaka sebagai muara pertama baik untuk sistem sekresi maupun untuk sistem reproduksi. Sistem eksresi sebagai sistem pembuangan zat-zat yang tidak berguna yang dilakukan oleh kulit, paru-paru, dan yang dikeluarkan oleh hati, yaitu berupa empedu. Sistem otot pada katak terdiri dari otot lurik, otot polos dan otot jantung. Otot polos dan otot kantung bekerja secara involunter, sedangkan otot lurik bekerja secara volunter.
IX.        Kesimpulan      :
1.      Sistem peerncnaan  pada katak dimulai dari rongga mulut® faring® kerongkongan® hati® lambung® usus halus® usus besar® kloaka.
2.      Sistem pernapasan pada katak terdiri dari paru-paru dan rongga kulit.
3.      Sistem otot pada katak terdiri atas otot polos, otot lurik dan otot jantung.
4.      Katak jantan mempunyai sepasang testis, sedangkan katak betina mempunyai ovum.
5.      Sistem peredaran darah pada katak yaitu sistem peredaran darah ganda dan tertutup.
PERCOBAAN : III
I.         Judul Praktikum             : Jaringan Epitel
II.      Tanggal Praktikum         : 17 Mei 2014
III.    Tujuan Praktikum          : Memperhatikan struktur epitel pipih banyak lapis                yang mengalami kornifikasi

IV.    Dasar Teori                      :
Jaringan epitel adalah salah satu tempat jaringan dasar, lainya jaringan penyambung, jaringan otot dan jaringan saraf. Pada masa dahulu istilah epitel digunakan untuk menyebut selaput jernih yang berada diatas permukaan tonjolan anyaman penyambung dibagian merah bibir dan pada saat ini istilah epitel digunakan untuk semua jaringan yang melapisi suatu struktur dan saluran.[11]
Jaringan epitel melapisi permukaan tubuh dan membatasi rongga tubuh, jaringan ini hampir sitemukan diseluruh permukaan tubuh, jaringan epitel yang  melapisi rongga tubuh disebut mesotelium dan jaringan yang membatasi organ disebut endothelium.[12]
Jaringan epitel dapat tersusun dal dua cara yang berbeda dan sesuai dengan fungsinya yang berbeda, kebanyakan jaringan epitel terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lembaran-lembaran yang terdiri dari satu atau lebih lapisan jaringan epitel lain tersusun dalam kelenjar-kelenjar yang disesuaikan untuk sekresi jaringan epitel yang dimodifikasi ini digolongkan sebagai epitel jaringan.[13]
Jaringan epitel terdiri dari sel-sel yang memadat dan saling terikat erat pada permukaan apical (bagian atas) beberaoa jenis epitel terdapat mikrovili (tonjolan dari permukaan sel yang bentuknya seperti jari) atau silia. Permukaan basal (bawah) jaringan epitel berkaitan dengan jaringan ikat, serta jaringan ikat dan jaringan epitel yang berbeda dibawahnya dihubungkan oleh membran dasar basalis dan lamina retikularis.[14]     
Berdasarkan jumlahnya    jaringan epitel terbagi atas spitel selapis dan epitel berlapis. Sedangkan berdasarkan bentuknya jaringan epitel terdiri dari epitel ppih, epitel kubus, dan epitel silindris. Doudenum tersusun atas epitel selapis silindris. Jaringan ini berfungsi sebagai tempat penyerapan zat atau absorbsi dan tersusun atas sel-sel yang berbentuk silindris dengan sitoplasma jernih atau berbutir-butir.[15]
V.      Alat dan Bahan  :
  a. Alat      :
1. Mikroskop
  b. Bahan  :
1. kulit
VI.        Cara Kerja       :
1.    Digambar dan diberi nama bagian-bagian dari lapisan epitel tersebut  dan di identifikasi variasi bentuk sel mulai dari lapis basal sampai kepermukaan bebas, kornifikasi sel yang mengalami degenerasi inti dan sitoplasma.

VII. Hasil Pengamatan        
Gambar: bagian epidermis dan dermis pada kulit
Pembesaran : 100 x 10
Keterangan
1.    Corneum
2.    Lucidum
3.    Granulosum
4.    Spinosum
5.    Basale









VIII. Pembahasan     :
          Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa, epitel merupakan salah satu tempat jaringan dasar, penyambung antara jaringan otot dan jaringan syaraf. Jaringan epitel melapisi permukaan tubuh disebut epitelium, jaringan epite yang melapisi rongga tubuh disebut mesotalium. Jaringan epitel memiliki beberapa bagian diantaranya seperti epidermis, stratumkornium, stratum granulosum, stratum graminatifum dan stratum spinnacum.
          Pengamatan dilakukan dengan mikroskop dengan pembesaran 10 x 100 Jaringan epitel terdiri dari sel-sel yang memadat dan salin terikat erat pada permukaan apikal (bagian atas) beberapa jenis epitel terdapat mikrovili tonjolan dari permukaan sel yang bentuknya seperti jari atau silia. Jaringan epitel kulit berfungsi sebagai penyusun sekaligus melapisi bagian dalam satu organ adalah jaringan epitel. Berdasarkan bentuk jaringan epitel terdiri dari epitel pipih, epitel kubus, dan epitel silindris.
          Jaringan epitel memiliki sifat umum diantaranya, jaringan epitel terdiri dari sel dengan batas yang jelas dan terdapat pada satu sama lain, tidak memiliki pembuluh darah dalam jaringan epitel dan kapiler. Zat makan ditransfer kejaringan melalui cara difusi. Pada jaringan epitel terdapat pelindung yaitu lapisan tanduk (korneum) dan lapisan lendir. Pada jaringan epitel tidak memiliki substansi intraseluler dan jaringannya sangat sikit tersusun atas sel-sel yang berkaitan erat sehingga membentuk lapisan sel yang menutupi permukaan tubuh yang melapisi rongga dan emnyusun kelenjar.

IX. Kesimpulan         :
1.      Jaringan epitel merupakan salah satu tempat jaringan dasar.
2.      Jaringan epitel yang melapisi permukaan tubuh disebut epitelium.
3.      Bagian jaringan epitel yaitu epidermis, stratum kornium, stratum granulosum, startum draminatifum dan spinacum.
4.      Beberapa jenis epitel terdapat mikrovili dan tonjolan dari permukaan sel.
5.      Berdasarkan bentuknya jaringan epitel terdiri dari epitel pipih, epitel kubus, dan epitel silindris.



PERCOBAAN : IV

I.        Judul Praktikum            :  Gigi
II.       Tanggal Praktikum       : 17 Mei 2014
III.  Tujuan praktikum         Memperhatikan struktur histologi gigi

VI.  Dasar Teori                      :
Gigi manusia terdiri dari dua puluh gigi susu dan tiga puluh dua gigi permanen, gigi-gigi ini bervariasi di antara mereka dalam ukuran, bentuk dan jumlah puncak dan akar; akan tetapi tiap gigi tentu mempunyai sifat-sifat morfologi mereka tersendiri. Jaringan keras gigi terbagi dalam dua bagian: 1. mahkota, terlapisi email adalah bagian gigi yang biasanya terlihat dan meluas terlampaui batas gusi, 2. Akar yang merupakan bagian gigi yang terletak dalam gusinya dan tertanam dalam lekuk gigi.[16]
Gigi tertanam dalam rahang mempunyai bagian-bagian yaitu mahkota gigi dan akar gigi. Gigi bagian luar umumnya terdiri dari bahan yang lebih keras dari tulang yaitu disebut email, dan isi sebagian besar terdiri dari zat kapur mengkonsumsi flourida yang banyak dapat memperkuat email gigi, dan dibawah lapisan ini terdapat lapisan yang tidak begitu keras yang disebut dengan lapian dentin.[17]
Rongga mulut terdapat gigi yang terdiri dari 2 macam yaitu gigi sulung mulai tumbuh pada anak-anak 6-7 bulan, lengkap pada umur 2 tahun jumlahnya 20 buah disebut gigi susu, terdiri dari 8 buah ggi seri (dens insisivus) 4 buah gigi taring (dens kasinas) dan 8 buah gigi geraham (molane) dan gigi tetap (permanea) tumbuh pada umur 6-18 tahun jumlahnya 32 buah terdiri dari 8 buah gigi seri (dens unsisinus) 4 buah gigi taring (dens kasinus) dan 12 gigi geraham (premolare) fungsi gigi seri untuk memotong makanan dan gigi taring untuk memutuskan makanan.[18]
Setiap gigi tersusun atas jaringan ikat khusus yang mengalami klasifikasi disebut dentin. Didaerah mahkota gigi, dentin diselaputi oleh jaringan yang keras, disebut enamel (email). Didaerah akar gigi, dentin diselaputi oleh sementum. Dentin merupakan bahan utama dari gigi. Dentin terdiri dari serabut kolagen, glikosaminoglikan dan garam-garam kalsium.[19]
Email merupakan komponen gigi yang penting dan paling keras, karena banyak mengandung kalsium. Email mempunyai struktur berbentuk prisma. Tiap-tiap batang (prisma) email tersebar diseluruh lapisan email. Email bersama-sama dengan sementum, keduanya berjalan tegak lurus ke permukaan gigi.[20]
V.  Alat dan Bahan   :
a.      Alat           :
1.      Mikroskop

b.      Bahan       :
1.    Gigi lengkap (SD-4)

VI.  Cara Kerja         :
1.    Digambar struktur gigi yang meliputi corona dengan lamella enameli (pita retzius dan schreger) dan dentin dengan lamella dentinalis cervix dan pulpa dentin.













VII.  Hasil Pengamatan        :
Gambar        : Morfologi  gigi
Keterangan











1. Email
2. Gingiva
3. Dentin
4. Mahkota
5. Servix
6.Lamela





Gambar        :  Struktur gigi
Pembesaran : 100X10
Keterangan
























VIII. Pembahasan     :
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa gigi terdiri dari dua bagian besar yaitu bagian yang tertanam didalam gingiva yang disebut akar gigi (root), sedangkan bagian yang menonjol di atas gingiva disebut mahkota gigi (crown). Tiap-tiap gigi memiliki rongga sentral yang disebut rongga pulpa, di daerah akar rongga ini meluas dan membentuk lubang tempat lewatnya pembuluh darah dan syaraf gigi.
Gingiva adalah jaringan yang menutupi bagian servikal gigi dan tulang alveolar, ginginva yang normal umumnya bewarna merah muda, terdapat 3 bagian yaitu gingiva bebas, gingiva cekat, dan gingiva interdental. Gingiva berfungsi sebagai jaringan yang melindungi bagian servikal gigi dan menutupi tulang alveolar.
Gigi tersusun atas jaringan ikat khusus yang mengalami klasifikasi disebut dengan dentin, di daerah mahkota gigi dentin diselaputi oleh jaringan yang keras yang disebut dengan email gigi. Di daerah akar gigi, dentin diselaputi oleh semntum.
 Dentin merupakan bahan utama dari gigi yang mengelilingi pulpa gigi, merupakan jaringan klasifikasi yang mirip dengan tulang, tetapi dentin lebih keras karena mengandung lebih banyak garam kalsium.
Dentin secara histologi terdiri dari serabut kolagen, glikosaminoglikan dan garam-garam kalsium, dentin diselaputi oleh selapis sel-sel khusus disebut odontoblast yang memproduksi bahan-bahan dari dentin itu sendiri. Sel-sel odontoblast hanya mengasilkan matriks organik pada permukaan dentin, odontoblast mempunyai inti yang terletak pada basal sel, golgi yang besar dan ribosoma yang banyak dalam sitoplasmanya.
Selapis sel-sel odontoblast yang mengelilingi pulpa gigi mempunyai proseuproseus dimana proseus ini masuk kedalam dentin membentuk serat tomes. Serat-serat ini lambat laun menjadi lebih panjang pada waktu dentin menjadi lebih tebal, yang mana mereka berjalan dalam saluran kecil disebut tubulus dentin, perbatasan antara dentin dan email serat-serat tomes menjadi lebih tipis. Dentin peka terhadap panas, dingin, asam, dan trauma, serbut-serabut syaraf pada dentin sangat jarang, hal ini mungkin membuat serat-serat tomes menghantarkan impuls sebagai reseptor kejaringan pulpa.
Email merupakan komponen gigi yang penting dan paling keras, karena banyak mengandung kalsium. Matriks organiknya bukanlah serabut kolagen, tetapi unsur utamanya adalah prolin, matriks email dihasilkan oleh sel-sel odontoblast. Sel-sel ini berasal dari sel-sel epitel bagian dalam dentin, apabila email mengalami klasifikasi penuh, odontoblast menjadi sel-sel kubis yang kecil dan atrofi. Menghilang setelah berbentuk selaput email yang meliputi permukaan luar email.
Sementum merupakan modifikasi dari tulang, ia terdiri dari lamel-lamel yang tersusun sejajar dengan permukaan yang terdiri dari lacunae dan kanalikuli, didaerah kira-kira sepertiga dari akar gigi, segmentum bersifat non-seluler, dari daerah membrana periodentalis, serabut-serabut kolagennya menembus segmentum membentuk serabut sharpey.

XI.  Kesimpulan        :
1.    Gigi terdiri dari dua bagian besar yaitu bagian yang tertanam didalam gingiva.
2.    Tiap-tiap gigi memiliki rongga sentral yang disebut rongga pulpa.
3.    Gingiva adalah jaringan yang menutupi bagian servikal gigi.
4.    Gingiva berfungsi sebagai jaringan untuk melindungi bagian servikal gigi.
5.    Gigi mempunyai jaringan ikat khusus yang mengalami klasifikasi.
6.    Dentin diselaputi dengan jaringan yang keras yang disebut dengan email.
7.    Dentin merupakan bahan utama dari gigi yang mengelilingi pulpa gigi.
8.    Dentin secara histologi terdiri dari serabut kolagen.
9.    Odontoblast mempunyai inti yang terletak pada basal sel golgi yang besar.

                                                                         









PERCOBAAN : V

I.      Judul  Praktikum         : Kelenjar
II.    Tanggal  Praktikum     : 17 Mei 2014
III.   Tujuan  Praktikum      : Memperhatikan bagian-bagian dari glandula                                                               sublingualis

IV. Dasar Teori         :
Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran, yang menyalurkan sekresi hormonnya langsung ke dalam darah. Hormon tersebut memberikan efeknya ke organ atau jaringan target. Beberapa hormone seperti insulin dan tiroksin mempunyai banyak organ target. Hormon lain seperti kalsitonin dan beberapa hormone kelenjar hipofisis, hanya memiliki satu atau beberapa organ target.[21]
Glandula saliva atau kelenjar saliva organ yang terbentuk dari sel-sel khusus yang dapat mensekresi saliva. Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada pada mukosa oral. Saliva memiliki fungsi melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses penguyahan dan menelan makanan.[22]
Kelenjar ludah yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis dan sublingularis. Kelenjar parotis yang terbesar, satu disebelah kiri dan satu disebelah kanan dan terletak dekat di depan agak ke bawah telinga. Kelenjar submandibularis nomor dua besarnya sesudah kelenjar parotis, terletak di bawah kedua sisi tulang rahang, dan berukuran sebesar buah kenari. Kelenjar sublingualis adalah yang terkecil, letaknya di bawah lidah kanan dan kiri.[23]
Kelenjar hipofise menghasilkan hormone tropic dan non tropic. Hormon non tropic akan mengontrol sintesa dan sekresi hormone kelenjar sasaran sedangkan hormone tropic akan bekerja langsung pada organ sasaran. Kemampuan hipofise dalam mempengaruhi atau mengontrol langsung aktivitas kelenjar endokrin lain menjadikan hipofise dijuluki master of glan.[24]
Kelenjar adrenal berfungsi melepaskan berbagai hormone ke dalam tubuh. Dua hormone penting yang di lepaskan kelenjar adrenal adalah kostisol dan adrenalin. Kelenjar adrenal juga berperan mempengaruhi organ reproduksi, berperan dalam metabolismme, dan memproduksi respon system saraf simpatik. Kelenjar adrenal terletak di atas ginjal.[25]
V. Alat dan Bahan :
a.      Alat:
1. Mikroskop

b.      Bahan:
1.    Glandula sublingualis (SD-22)

VI. Cara Kerja          :
  1.   Digambar bagian-bagian dari glandula sublingualis ini yang meliputi         acinus  (sel-sel acinus, sel-sel mioepitel, serous semilunaris), duktus      intralobularis.










  VII. Hasil Pengamatan:
Gambar          : Kelenjar saliva mucos
Pembesaran    : 100 x 10
Keterangan














1.    Granula
2.    Inti sel
3.    Bagian basal sel
4.    Lumen
Gambar          : Kelenjar saliva seros
Pembesaran   : 100 x 10
Keterangan















1.      Inti sel
2.      Bagian basal sel
3.      Lumen


Gambar          : Histologi kelenjar saliva
Pembesaran   : 100 x 10
Keterangan











1.    Bagian basal sel
2.    Inti sel













Gambar Hasil Pengamatan              :




  VIII. Pembahasan     :
          Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa kelenjar eksokrin dalam mulut menghasilkan air liur yang memiliki fungsi yaitu membahasi rongga mulut dan isinya, memulai pencernaan makanan, menyelenggarakan ekskresi zat, zat tertentu seperti urea dan tiosinat dan mereabsorbsi natrium dan mengekresi kalium. Dalam rongga mulut terdapat tiga kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis, kelenjar submaxilaris dan kelenjar sublingualis.
           Kelenjar saliva dibungkus oleh kapsula jaringan ikat fibrous yang kaya akan serabut kolagen. Dari kapsula, kelenjar septa yang menembus ke dalam kelenjar, dan membaginya atas lobules-lobulus. Setiap lobulus terdiri dari unit-unit sekretoris atau asinus. Setiap asinus memiliki lumen dan sel-sel berbentuk pyramidal. Kelenjar saliva ada yang bersifat serous dan mukos. Selain itu juga terdapat pada manusia dan hewan.
            Kelenjar ludah di dekat telinga, disebut kelenjar glandula parotis. Menghasilkan ludah yang berbentuk air dan mengandung enzim amylase, di rahang bawah terdapat glandula submaxilaris dan glandula sublingualis, keduanya menghasilkan getah yang mengandung air dan lender. Ludah dari hasil sekresi dari kelenjar parotis terdapat sebanyak 25 %. Kelenjar submandibularis atau submaksilaris 70 % dan 5 % kelenjar sublingularis. Ludah mengandung enzim amylase (pitialin) yang bekerja pada suasana netral, enzim ini berfungsi untuk mengubah amilum menjadi glukosa.

IX. Kesimpulan         :
1.    Kelenjar eksokrin dalam mulut menghasilkan air liur yang memiliki fungsi membasahi rongga mulut.
2.    Rongga mulut terdapat 3 kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis, submaxilaris dan kelenjar sublingualis.
3.    Kelenjar saliva dibungkus oleh kapsula jaringan ikat fibrous yang kaya akan sarabut kolagen.
4.    Kelenjar ludah di dekat telinga disebut kelenjar glandula parotis.
5.    Ludah mengandung enzim amylase yang bekerja pada suasana netral.



PERCOBAAN : VI

I.              Judul Praktikum                     : Lingua
Tanggal Praktikum         : 17 Mei 2014
II.                            Tujuan Praktikum          : Memperhatikan bentuk dari papilla dan                                                          otot lidah

III.             Dasar Teori                :
        Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot, permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut, permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu: papila bentuk benang, papila bentuk dataran, dan papila bentuk jamur.[26]
        Tunas pengecap terdapat pada parit-parit papila bentuk dataran, dibagian samping dari papila berbentuk jamur, dan dipermukaan papila berbentuk benang. Pengecap merupakan fungsi utama taste buds dalam rongga mulut, namun indera pembau juga sangat berperan pada persepsi pengecap. Selain itu, tekstur makanan seperti yang di deteksi oleh indera pengecap taktil dari rongga mulut dan keberadaan elemen dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujung saraf nyeri juga berperan pada pengecap.[27]
        Indera pengecap kurang lebih terdiri dari 50 sel epitel yang termodifikasi, beberapa diantaranya disebut sel susutentakular dan lainnya disebut sel pengecap. Sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel sekitarnya, sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan lainnya adalah sel matang yang terletak kearah bagian tengah indera dan akan segera terurai dan larut. Ujung organ indera pengecap disebut putting cita rasa terdiri dari sel-sel gustatory fusiform, tercampur dengan sel-sel sustakular yang terangkai dalam bentuk kelompok yang menyerupai tong.[28]
        Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang terutama terletak pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecap pada lidah manusia) dan dalam jumlah yang lebih kecil pada polatum mole dan permukaan laringeal dari epiglotis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papila sirkumualata, papilla foliota, papila fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel reseptor, kuncup kecap terdiri atas sekurang-kurangnya 4 jenis sel yang dapat dikenali dengan mikroskop elektron.[29]
        Pada manusia, indera rasa pengecap merupakan hal yang sangat berarti, karena dengan indera rasa pengecap tersebut dapat merasakan nikmat dan enaknya makanan serta minuman. Sensasi rasa pengecap timbul akibat adanya zat kimia yang berikatan pada reseptor indera rasa pengecap, yang kebanyakan terdapat dipermukaan lidah dan palatum molle, hanya zat kimia dalam larutan atau zat padat yang telah larut dalam saliva yang dapat berikatan dengan sel reseptor.[30]
IV.             Alat dan Bahan   :
a.      Alat     :
1.      Mikroskop

b.      Bahan :
1.      Lingua (SD-5)

V.                Cara Kerja          :
1.      Digambar struktur umum dari lingua yang meliputi papilla valata dikelilingi sulcus papillae (epitel pipih banyak lapis noncornificatum, gemma gustatoria pada dinding sulcus papilae, glandula serosa diantara serabut otot.
2.      Perhatikan jenis sel lainnya (sel gustatoria dan sel basalis) dan beri nama masing-masing bagian.









VI.             Hasil Pengamatan :
Gambar        : lidah
Pembesaran  :
Keterangan













1. Papila filiform
2. Lingua aponerolis
3. Otot transversal lidah
4. Otot vertikal lidah










Gambar        : Struktur Lidah
Pembesaran  :
Keterangan
















VII.          Pembahasan        :
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa lidah merupakan massa dari otot-otot skelet yang dilapisi oleh membrana mukosa. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas kelompoksel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut, permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papilla).
Pengamatan yang dilakukan dibawah mikroskop dengan pembesaran ..... didapatkan  Bagian posterior dari permukaan atas lidah dipisahkan dengan bagian anteriornya oleh batas yang membentuk huruf V, dibelakang atas ini permukaan lidah mempunyai kelompok-kelompok limfatik disebut nodulus limfatikus dan tonsila lingualis, papilae lidah merupakan tonjolan-tonjolan epitel dan lamina propria ada 3 macam papilae.
Papillae filiformis (filum = benang) yang terdapat diseluruh permukaan lidah, bentuk tonjolannya komikal, sangat banyak epithelnya tidak mengandung putik pengecap. Papilae ini terdiri dari papilae primer dan papilae sekunder, tiap papilae mengandung epitel dan lamina propria, epithelnya sering mengalami pertandukan, terutama pada yang sekunder.
Papilae fungiformis yang bentuknya menyerupai jamur, karena papilae ini mempunyai tangkai yang sempit sedangkan bagian atasnya melebar. Papilae ini mengandung putik pengecap, jumlahnya tidak sebanyak papilae filiformis, tetapi mereka banyak dijumpai didaerah ujung lidah. Papilae primer merupakan bagian dalam tengah dari papilae yang sekunder menembus sampai kebagian epitel, jenis papilae fungiforis banyak dijumpai pada carnifora.
Papilae valatae bentuknya besar, terbesar di sepanjang daerah v pada bagian posterior lidah, papilae ini bnyak mengandung kelenjar mukos dan serous juga banyak terdapat putik pengecap. Setiap papilae terdiri dari papilae primer dan sekunder, pada akar lidah jarang dijumpai papilae, tetapi bnyak nodule limpatik pada lapisan proprianya. Nodule tersebut sering disebut sebagai tonsila lingualis, tonsila ini mempunyai germinal centre, diantara tonsila terdapat alur yang disebut kripta.
VIII.       Kesimpulan          :
1.      Lidah merupak massa dari otot-otot skelet yang dilapisi dari membrana mukosa.
2.      Tunas pengecap terdiri atas kelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.
3.      Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitellium yang banyak mengandung kelenjar lendir.
4.      Setiap papilae terdiri dari papilae primer dan sekunder.
5.      Papilae fungiformis yang bentuknya menyerupai jamur.


















PERCOBAAN : VII
I.     Judul Praktikum     : Pengamatan Anatomi Aves
II.   Tanggal Praktikum  : 20 Mei 2014
III. Tujuan Praktikum   : Memperhatikan struktur dan bagian-bagian dari sistem otot, sistem cerna, sistem pernapasan, sistem urinasi, sistem reproduksi, sistem syaraf dan sistem peredaran darahnya.
IV.   Dasar Teori :
Aves merupakan chordata yang tubuhnya ditutupi oleh bulu. Bulu-bulu ini adalah modifikasi dari sisik yang ditemukan pada reptilia. Selain bulu, morfologi tubuh yang mencolok pada aves adalah alat gerak tubuh depannya berupa sayap yang berfungsi untuk terbang. Sayap pada aves merupakan homolog dari kaki depan pada reptilia dan mamalia yang tersusun atas radius, ulna, humerus, tarsus, dan metatarsus. Bulu-bulunya disayap telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan tersusun rapat. Bulu-bulu ini juga tersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara didalamnya. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk.[31]
Tubuh burung dibedakan atas caput (kepala), cervix (leher) yang biasanya panjang, truncus (badan) dan caudal (ekor). Sepasang extremitas anterior merupakan sayap yang terlipat seperti huruf z pada tubuh waktu tidak terbang. Extremitas posterior berupa kaki, otot daging paha kuat, sedangkan bagian bawahnya bersisik dan bercakar. Mulut mempunyai rostum (paruh) yang terbentuk oleh maxilla pada ruang atas dan mandibula pada bagian bawah.[32]
Kelas aves memiliki kemajuan bila dibandingkan dengan kelas-kelas yang mendahuluinya dalam hal: (1) tubuh mempunyai penutup yang bersifat isolasi, (2) darah vena dan arteri terpisah secara sempurna dalam sirkulasipada jantung, (3) pengaturan suhu tubuh, (4) rata-rata metabolisme aves tinggi, (5) mempunyai kemampuan untuk terbang, (6) suaranya berkembang dengan baik, (7) menjaga anaknya dengan baik dan cara khusus.[33]
Adanya bulu pada burung merupakan karakter spesifik yang menunjukkan jenis burung. Sayap merupakan adaptasi dari burung yang jelas untuk terbang. Bulu adalah salah satu adaptasi vertebrata yang paling luar biasa karena sangat ringan dan kuat. Bulu terbuat dari keratin, protein yang juga menyusun rambut dan kuku pada mamalia dan sisik pada reptilia. Selain dimanfaatkan sebagai peralatan terbang bulu juga dapat dimanipulasi untuk mengontrol pergerakan udara disekitar sayap.[34] 
Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Burung ada pula yang memiliki cakar tajam untuk mencengkram mangsanya, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek mangsa. Tipe-tipe cakar ini merupakan adaptasi dari pengaruh habitat dan fungsinya.[35]
V. Alat dan Bahan :
a.  Alat:
1. Gunting bedah
2. Pinset
3. Nampan bedah
4. Jarum pentul
b. Bahan:
1.  Burung merpati (Columba livia)
2. Cloroform
3. Kapas

VI. Cara Kerja   :
1.      Dibius burung dengan cloroform, diperhatikan bagian-bagiannya.
2.      Dibasahi lebih dahulu seluruh bulu atau seluruh badannya agar bulunya tidak beterbangan waktu dicabut. Dicabut bulunya sampai bersih betul sehingga baru kelihatan bulu –bulu halus yang disebut fitoplumae. Dicuci sampai bersih setelah dicabut bulunya. Diletakkan punggungnya didalam bak preparat, diikat kedua kaki dan kedua tangan (sayap) dengan benang. Direntangkan kedua kaki dan sayap pada masing-masing lubang yang ada pada bak preparat. Dibuat toresan media pada kulit (daerah ventral) dari depan sampai mandibula. Dilepaskan kulit dari otot-ototnya maka akan terlihat jelas carina sterni yang merupakan pemisah antara M. Pectoralis mayor sinister dengan M. Pectoralis dexter. M. pectoralis yang terlihat berwarna merah itu adalah pectoralis mayor. Dilepaskan musculus dari organnya dengan cara dibuat tulisan sejajar dengan crista sterni pada otot tersebut. Dilepaskan otot bagian cranial dari tulang yang menghubungkan crista sterni dengan sendi bahu, maka akan terlihat jelas M. pectoralis minor. Dibagian caudal dilepaskan otot tersebut lebih lanjut dari sternum (tulang dada), dibalikkan ke lateral, maka akan terlihat saccus axillaries di daerah sendi yang memisahkan antara M. pectoralis mayor dan M. pektoralis minor.
3.      Dibersihkan kedua musculus tersebut sehingga sternum terlihatlebih jelas, dibuka osternum tersebut dengan hati-hati agar organ didalamnya tidak rusak. Dibuka otot perut dengan gunting dan diteruskan ke cranial sehingga tulang rusuk terpotong. Dilepaskan persendiannya tulang dada dengan tulang humerus (tulang lengan atas), sehingga osternum terlepas. Diperhatikan jangan ada tulang yang terpotong atau rusak, setelah osternum terbuka maka akan terlihat situs viscerum (letak alat jeroan).
4.      Digambar semua jeroan yang nampak, diperhatikan bentuk dan warnanya. Digambar susunan organisasi dari semua sistem yang disebutkan diatas.








VII. Hasil Pengamatan:
Gambar        : Anatomi burung merpati (Columba livia)

Keterangan


























1. Mata
1. Paruh
2. Paru-paru
3. Esofagus
4. Ginjal
5. Tembolok
6. Empedal
7. Jantung
8. Hati
9. Usus halus
10.  Pankreas
11.  Kloaka
12.  Tungkai



Gambar        : Sistem urinaria merpati

Keterangan

1. Ginjal
2. Ureter
3. Uretra
4. Penampung ureter









Gambar        : Sistem pencernaan merpati

Keterangan









1. Kerongkongan
2. Tembolok
3. Hati
4. Lambung kelenjar
5. Empedu (lambung otot)
6. Usus
7. Testis
8. Ginjal
9. Kloaka









Gambar        : Sistem sirkulasi merpati

Keterangan

1.    Paru-paru
2.    Resplarobik
3.    Vena pulmonalis
4.    Arteri pulmonalis
5.    Serambi kiri
6.    Serambi kanan
7.    Bilik kanan
8.    Bilik kiri
9.    Aorta
10.    Kapiler sistematik






Gambar        : Sistem pernapasan merpati

Keterangan













1.    Kantong udara belakang
2.    Rongga pelintasan udara
3.    Kantong udara depan
4.    Udara segar
5.    Paru-paru






Gambar        : Sistem reproduksi merpati jantan

Keterangan

1. Testis
2.  














Gambar        : Sistem reproduksi merpati betina

Keterangan













1.    Ginjal
2.     
3.       











VIII. Pembahasan            :
       Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa, aves merupakan hewan yang memiliki bulu hampir diseluruh tubuhnya. Aves juga merupakan hewan ovipar atau bertelur, bernafas dengan paru-paru. Selain itu pada aves juga mempunyai sayap yang merupakan hasil modifikasi dari extremitas anterior. Pada aves juga mempunyai paruh dan tembolok.
       Sistem otot pada burung merpati diantaranya adalah otot pectoralis atau otot dada yang mengatur gerakan sayap, dan otot ini juga memberikan kepakan sayap yang kuat untuk terbang. Otot medialis (bawah) sampai pectoralis adalah supracoracoideus. Otot ini berfungsi pada saat burung mengangkat dan menggepakkan sayap. Otot-otot kulit membantu burung pada saat terbang dengan menyesuaikan arah bulu yang melekat pada otot kulit dan membantu burung saat melakukan manuver penerbangan. Pygostyle yang terletak pada bagian ekor yang mengontrol semua gerakan dibagian ekor.
       Sistem pencernaan pada burung merpati dimulai dari paruh yang berfungsi untuk mengambil makanan. Selanjutnya masuk kedalam rongga mulut lalu menuju ke kerongkongan. Pada bagian bawah kerongkongan terdapat tembolok yang berfungsi untuk menyimpan makanan. Kemudian masuk ke lambung kelenjar yang berfungsi untuk mencerna secara kimiawi. Selanjutnya masuk ke lambung pengunyah yang berfungsi untuk menghancurkan makanan. Lalu menuju ke usus halus, usus besar, rektum dan berakhir di kloaka. Usus halus pada burung lebih besar daripada usus besar.
       Sistem pernapasan (respirasi) pada burung merpati dimulai dari lubang hidung yang terdapat pada pangkal paruh. Udara yang masuk kemudian menuju celah trakea yang terdapat pada dasar faring yang menghubungkan trakea. Trakeanya panjang berupa pipa bertulang rawan dan bebentuk cincin dan bercabang menjadi dua bagian pada bagian akhir trakea, yaitu bronkus kanan dan kiri. Didalam bronkus pada pangkal trakea terdapat sirink yang terhubung dengan paru-paru. Akan tetapi pada saat terbang proses respirasi pada burung dibantu oleh kantong udara.
       Sistem urinasi pada burung merpati dimulai dari ginjal, kemudian menuju ke ureter, lalu menuju ke vesica urinaria. Selanjutnya menuju ke uretra dan berakhir di kloaka. Burung merpati mempunyai sepasang ginjal yang bertipe metanefros. Ginjal pada burung merpati terletak disebelah dorsal dan ujungnya buntu serta menerima filtrat dari darah.
       Sistem reproduksi pada burung merpati pada hewan jantan memiliki sepasang testis yang berbentuk oval dan berwarna putih melekat disebelah anterior dari ren dengan suatu alat penggantung. Testis sebelah kanan lebih kecil daripada yang kiri. Dari masing-masing testis berhubungan dengan saluran yang vans deferens yang sejajar dengan ureter, kemudian baru ke kloaka. Sedangkan pada burung merpati yang betina terdiri dari oviduk ovarium, tuba fallopi, osteum tuba, bursa fibri dan berakhir di kloaka. Kloaka merupakan satu saluran dengan mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai sistem pencenaan, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.
       Sistem peredaran darah (sirkulasi) pada burung merpati merupakan sistem peredaran darah tertutup. Darah yang dipompa oleh jantung dialirkan keseluruh tubuh dan kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Jantung pada burung merpati mempunyai 4 ruang, yaitu 2 atrium (serambi) dan 2 ventrikel (bilik). Ventrikel pada burung merpati lebih tebal daripada atrium. Hal ini disebabkan karena ventrikel berfungsi untuk memompa. 

X.  Kesimpulan      :
1.      Sistem pencernaan pada burung merpati dimulai dari paruh ® rongga mulut ® kerongkongan ® tembolok ® lambung kelenjar ® lambung pengunyah ® usus halus ® usus besar ® rektum ® kloaka.
2.      Sistem pernapasan pada burung merpati dimulai dari lubang hidung ® celah trakea ® faring ® trakea ® bronkus ®bronkiolus.
3.      Sistem urinasi dimulai dari ginjal ® ureter ® vesica urinaria ® uretra ® kloaka.
4.      Burung merpati jantan mempunyai sepasang testis, sedangkan burung merpati betina mempunyai ovum.
5.      Sistem peredaran darah pada burung merpati adalah sistem peredaran darah tertutup.

.
                           



























DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Jaringan Epitel, Jakarta : Erlangga, 2005.
Cambell, dkk, Biologi Edisi Kelima Jilid 2, Jakarta:Erlangga, 2003.
Campbell, N, A, JB Reece & Mitchell, Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Jakarta: Erlangga, 2000.
Campbell., Biologi. Jakarta: Erlangga. 2000.
Djuhanda., Analisa Struktur Vertebrata Jilid 1,  Bandung: Armico, 2002.
Gerrit Bevelander., Dasar-Dasar Histologi Edisi 8, Jakarta: Erlangga, 1990
Green., Fisiologi Tubuh Manusia, Tanggerang: Bina Rupa Aksara, 2002.
Guyton Ac, Hall., Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta: EGC, 2002.
Hala, Yusminah., Biologi Umum 2, Makassar: UIN Alauddin Press, 2007.
Jasin Maskoeri., Sistematika Hewan. Surabaya: Sinar Wijaya, 2001.
Jasin, Maskoeri, Zoologi Vertebrata, Surabaya : Sinar Wijaya, 1999.
Kimball., Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Jakarta: Erlangga, 1999.
Koes Irianto, Sruktur dan Fungsi Tubuh Manusia, Bandung : Yrama Widya, 2004.
Koes Irianto., Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis, Bandung: Yrama      Widya, 2007.
Lynda,  Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8, Jakarta: EGC, 2000.
Mackkinnon, J., Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung Di Jawa Dan Bali,         Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.
Noviani, Rencana Asuhan Keperawatan, Banjarmasin : Gramedia, 2011.
Pearce, E.C., Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia, 2000.
Slamet, dkk., Zoologi Vertebrata. Palembang: FKIP MIPA UNSRI. 2007.
Soewono., Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Direktorat Pendidikan. 2000.
Subowo., Histologi Umum, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Syaifuddin., Anatomi Fisiologi, Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 1997.
Syaifuddin., Fungsi Sistem Tubuh Manusia, Jakarta: Widya Medika, 2000.
Tim Dosen., Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. Makassar: UIN. 2011.
                       



[1] Jasin, Maskoeri, Zoologi Vertebrata, (Surabaya : Sinar Wijaya, 1999), hal. 137.

[2] Cambell, dkk, Biologi Edisi Kelima Jilid 2, (Jakarta:Erlangga, 2003,), hal.  272.

[3] Slamet, dkk, Zoologi Vertebrata, (Palembang : FKIP, MIPA Unsri, 2007), hal.  74.
[4] Junaidi, dkk, Invertasisasi Jenis-jenis Mamalia, Jurnal Biologi (Padang : Universitas Andalas,                  
                                Vol 1), hal. 29.

[5] Wayan, B, Biologi Sains, (Bandung : ITB press, 2010), hal. 63.
[6] Campbell, Biologi, (Jakarta: Erlangga, 2000), hal. 324.

[7] Slamet, dkk, Zoologi Vertebrata, (Palembang: FKIP MIPA UNSRI, 2007), hal. 72.

[8] Jasin Maskoeri, Sistematika Hewan, (Surabaya: Sinar Wijaya, 2001), hal. 361.
[9] Tim Dosen, Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata, (Makassar: UIN, 2011), hal. 53.
[10] Soewono, Pengantar Fisiologi Hewan, (Jakarta: Direktorat Pendidikan, 2000), hal. 152.
[11] Anonim, Jaringan Epitel, (Jakarta : Erlangga, 2005), hal. 103.

[12] Noviani, Rencana Asuhan Keperawatan, (Banjarmasin : Gramedia, 2011), hal. 51.

[13] Koes Irianto, Sruktur dan Fungsi Tubuh Manusia, (Bandung : Yrama Widya, 2004), hal. 26.

[14] Lynda,  Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8, (Jakarta: EGC, 2000), hal. 21.

[15] Syaifuddin., Fungsi Sistem Tubuh Manusia, (Jakarta: Widya Medika, 2000), hal. 259-260.
[16] Gerrit Bevelander., Dasar-Dasar Histologi Edisi 8, (Jakarta: Erlangga, 1990), hal. 222.

[17] Kus irranto., Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia Para Media, (Bandung: CV. Yrama Widya, 2007), hal. 2.

[18] Syaifuddin., Anatomi Fisiologi, (Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 1997), hal. 67.

[19] Guyton Ac, Hall., Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, (Jakarta: EGC, 2002), hal. 42.

[20] Pearce, E.C., Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis, (Jakarta: PT. Gramedia, 2000), hal. 203.

[21]Bagnara, Endokrinologi Umum, (Yogyakarta: Airlangga, 2002), hal 34.

[22]Watson, Roger, Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan Edisi 10, (Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2002), hal 25.

[23]Evelyn, C. Peace, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, (Jakarta: PT Gramedia, 2001), hal 125.

[24] Rumohorgo, Hotma., Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin, (Jakarta: EGC, 2001), hal 39.

[25]Poedjadi, A., Dasar-dasar Biokimia, (Jakarta: UI, 2000), hal 40.
[26] Campbell, N.A., Reace & Mitchell., Biologi Edisi Kelima Jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 2000), hal. 311.

[27] Subowo., Histologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 79.

[28] Kus irianto., Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis, (Bandung: Yrama Widya, 2007), hal. 187.
[29] Green., Fisiologi Tubuh Manusia, (Tanggerang: Bina Rupa Aksara, 2002), hal. 220.

[30] Hala, yusminah., Biologi Umum 2, (Makasar: UIN Alauddin press, 2007), hal. 168.
[31] Slamet, dkk., Zoologi Vertebrata, (Palembang: FKIP MIPA UNSRI, 2007), hal. 84.

[32] Tim Dosen., Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata, (Makassar: UIN, 2011), hal. 59.

[33] Djuhanda., Analisa Struktur Vertebrata Jilid 1,  (Bandung: Armico, 2002), hal. 98.

[34] Kimball., Biologi Edisi Kelima Jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 1999), hal. 127.

[35] Mackkinnon, J., Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung Di Jawa Dan Bali, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003), hal. 103.

No comments:

Post a Comment